Epilog
Pada suatu ulang tahun, Lyra meniup lilin sendirian. Ia tidak menyusun doa panjang. Hanya satu kalimat kecil, jujur, hampir ceroboh: Jika bukan jodoh, izinkan aku bertemu lagi saat aku butuh arah. Waktu tidak menjawabnya segera. Ia membiarkan Lyra berjalan—terkadang terlalu pelan, terkadang tergesa—jatuh pada perasaan yang sama, bangkit dengan cara yang berbeda. Ia bertemu lagi. Tidak untuk kembali. Tidak untuk memperbaiki apa pun. Hanya cukup lama untuk tahu bahwa ia sudah tidak berdiri di tempat yang sama. Setelah itu, hidup berjalan seperti biasa. Ada pertemuan yang singkat. Ada tawa yang tidak direncanakan. Ada langkah yang lebih hati-hati. Lyra belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun padanya: bahwa mencintai bukan soal seberapa kuat menggenggam, melainkan seberapa sadar kita melangkah. Karena tidak semua jalan licin akan memberi tanda. Dan tidak semua jatuh terjadi karena kita salah memilih arah. Beberapa hanya perlu dilalui dengan pelan. Dengan h...