Bab 6: Hal-Hal yang Tidak Bisa Diucapkan
Bagas tidak langsung masuk kembali ke toko.
Ia berdiri di luar, di bawah kanopi sempit, membiarkan hujan turun seperti alibi. Ponselnya bergetar di saku. Ia tahu siapa tanpa perlu melihat. Ia tetap tidak mengangkatnya.
Ada jeda yang tidak perlu.
Ada napas yang tertahan terlalu lama.
Ia menatap pantulan dirinya di kaca—sedikit buram oleh air dan cahaya lampu. Wajah yang sama, tapi tidak lagi terasa sepenuhnya milik sendiri. Sejak tadi, dadanya terasa seperti diikat longgar: tidak sakit, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa ia sedang menahan sesuatu.
Ia baru saja bertemu Lyra.
Bukan “melihat”.
Bukan “berpapasan”.
Bertemu.
Bagas menyebutnya begitu karena tubuhnya tidak berbohong. Karena cara jantungnya bereaksi tidak memberi pilihan kata lain. Karena selama beberapa detik, ia lupa bahwa ada kalimat-kalimat yang sekarang tidak lagi boleh diucapkan.
Ia mengingat cara Lyra menyebut namanya.
Tenang. Bersih.
Seperti sudah belajar melepaskan.
Itu yang paling menyakitkan.
Ponselnya bergetar lagi.
Kamu di mana?
— Yasmin
Bagas menarik napas, lalu akhirnya menjawab.
Di depan. Masuk sekarang.
Ia memasukkan ponsel kembali, dan sebelum melangkah, ia menutup mata sebentar. Bukan untuk mengingat. Tapi untuk menyusun diri.
Karena Yasmin tidak pantas menerima seseorang yang setengah ada.
Di dalam, Yasmin berdiri dekat kasir. Rambutnya basah di ujung. Ia memegang dua gelas minuman—satu untuknya, satu untuk Bagas—tanpa bertanya rasa apa. Ia sudah tahu.
“Kupikir kamu nyasar,” katanya, tersenyum.
“Macet hujan,” jawab Bagas.
Kebohongan kecil.
Diterima tanpa interogasi.
Mereka berjalan keluar bersama. Yasmin membuka payung, sedikit miring agar Bagas ikut terlindung. Gerakan itu sederhana, tapi akrab. Bukan kebiasaan lama—kebiasaan yang sedang tumbuh.
“Kamu dingin?” tanya Yasmin.
“Enggak,” kata Bagas. “Cuma capek.”
Yasmin menatapnya sebentar. Tidak lama. Tidak mendesak. Lalu mengangguk. Ia selalu tahu kapan harus berhenti bertanya.
Dan justru itu yang membuat Bagas merasa bersalah.
Karena di sela langkah mereka, di bawah payung yang terlalu sempit, Bagas menyadari sesuatu yang tidak ingin ia akui:
bahwa ada bagian dirinya yang sudah terlalu lama tinggal di masa lalu,
dan baru hari ini ia benar-benar merasakan betapa berat membawanya ke masa depan.
Mereka berhenti di lampu merah. Hujan memantul di aspal. Kota bergerak seperti biasa—tidak peduli pada pertemuan yang barusan terjadi, atau hati yang retak tanpa suara.
Yasmin menyenggol lengannya pelan. “Kamu oke?”
Bagas mengangguk. Kali ini, lebih lambat.
“Iya,” katanya. Dan ini bukan bohong sepenuhnya. “Aku cuma… ketemu seseorang yang dulu penting.”
Yasmin tidak langsung menjawab. Lampu merah berubah hijau, lalu mereka melangkah lagi.
“Dulu,” ulang Yasmin, lembut. Bukan menekan. Hanya memastikan posisi kata.
“Iya,” kata Bagas. “Dulu.”
Ia mengira kata itu akan terasa final.
Ternyata tidak.
Malam itu, setelah mereka berpisah, Bagas duduk sendirian di mobil lebih lama dari biasanya. Mesin sudah mati. Hujan sudah reda. Tapi tangannya masih menggenggam setir, seperti takut kalau dilepaskan, ada sesuatu yang akan runtuh.
Ia teringat satu hal yang tidak terjadi di toko tadi.
Ia tidak menoleh.
Bukan karena tidak ingin.
Melainkan karena ia tahu—
kalau ia menoleh,
ia akan mengakui sesuatu yang sudah terlalu lama ia kubur:
bahwa ada cinta yang tidak mati karena salah,
melainkan karena tidak diberi tempat untuk hidup.
Dan beberapa hal,
kalau dibiarkan hidup lagi,
akan menghancurkan semua yang sedang dibangun dengan susah payah.
Bagas membuka pintu mobil.
Malam menelannya pelan.
Komentar
Posting Komentar