BAB 1: Pagi yang Terlalu Jujur
Pagi itu sebenernya pagi biasa. Alarm bunyi. Dimatiin. Bunyi lagi. Dimatiin lagi. Bedanya, di sebuah rumah, ada yang bilang: “Aku nggak telat. Aku cuma nggak niat.” Kalimat itu keluar begitu aja, nyelonong di meja makan. Biasanya kalimat itu disimpen di kepala. Hari ini? Keluar. Istrinya ngelirik. Anaknya berhenti makan sebentar. “Kenapa?” “Capek aja. Kerjaannya gitu-gitu doang.” Nggak ada drama. Cuma suasana aneh, kayak lupa pakai baju dalem pas keluar rumah—nggak kelihatan, tapi nggak nyaman. Di rumah lain, seorang ibu bilang ke anaknya, “Kerjain PR-nya ya. Bukan karena penting, tapi biar gurumu nggak cerewet.” Anaknya manggut-manggut. Masuk akal. Di kosan, ada yang bales chat, “Maaf baru jawab. Aku lihat pesannya tadi malam dan mutusin tidur.” Pesan itu dibaca. Lawan bicaranya ngetik… lalu hapus… lalu diem. Di jalan, macet masih macet. Bedanya, orang-orang nggak lagi cari alasan. “Aku nyalip karena emosi.” “Aku klakson karena kesel.” “Aku potong jalur karen...