Based on True Lies
Hari Kejujuran Nasional**
Negara ini sebenarnya tidak bermasalah.
Ia hanya terlalu sibuk.
Terlalu sibuk rapat, terlalu sibuk menyusun rencana, terlalu sibuk menjelaskan hal-hal yang tidak perlu dijelaskan. Setiap hari dipenuhi kalimat panjang, diagram berwarna, dan janji yang diakhiri dengan kata “segera”—yang artinya fleksibel.
Karena itu, ketika pemerintah mengumumkan Hari Kejujuran Nasional, tidak ada yang langsung panik.
Awalnya terdengar seperti ide bagus. Bahkan sangat bagus. Terlalu bagus.
Dalam pengumuman resminya—yang dibacakan dengan nada datar dan latar belakang logo yang sedikit buram—disebutkan bahwa Hari Kejujuran Nasional adalah “sebuah momentum reflektif untuk meningkatkan transparansi, keterbukaan, dan komunikasi yang lebih apa adanya antara negara dan warganya.”
Tidak ada yang benar-benar mengerti maksudnya.
Tapi semua bertepuk tangan.
Baru setelah catatan kaki dibaca, masalahnya muncul.
Catatan kaki itu pendek, tapi mematikan:
Selama Hari Kejujuran Nasional, seluruh warga negara—tanpa pengecualian—tidak dapat menyampaikan informasi yang tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya mereka pikirkan.
Kalimat itu tidak menggunakan kata “wajib”.
Ia menggunakan kata “tidak dapat”.
Artinya: ini bukan imbauan.
Ini bukan kebijakan moral.
Ini kejadian.
Tidak ada yang tahu bagaimana mekanismenya.
Apakah karena virus.
Apakah karena gelombang elektromagnetik.
Apakah karena doa bersama yang terlalu khusyuk.
Yang jelas, mulai pukul 00.00, kebohongan tidak lagi berfungsi.
Jam berdetak seperti biasa.
Listrik tetap menyala.
Website pemerintah tetap lambat.
Tapi kebohongan—dalam segala bentuknya—menghilang begitu saja.
Di rumah, seseorang yang biasanya berkata “sebentar lagi” terpaksa berkata, “aku lupa dan tidak akan melakukannya hari ini.”
Di kantor, kalimat “nanti kita bahas” berubah menjadi “saya tidak mau mengambil risiko itu.”
Di ruang rapat, keheningan mendadak menjadi bahasa resmi baru.
Pemerintah mencoba menenangkan publik.
Mereka mengatakan Hari Kejujuran Nasional hanya berlangsung satu hari. Dua puluh empat jam. Tidak lebih. Setelah itu, semuanya akan kembali normal. Bahasa akan kembali aman. Kalimat akan kembali lentur. Semua orang bisa berbohong dengan nyaman seperti sediakala.
Pernyataan itu cukup menenangkan.
Bukan karena orang mencintai kebohongan.
Tapi karena mereka sudah terbiasa dengannya.
Yang paling terdampak tentu saja adalah instansi-instansi negara.
Tempat-tempat yang hidup dari frasa seperti:
-
“sedang dikaji”
-
“sesuai prosedur”
-
“akan kami tindak lanjuti”
-
“dalam proses”
Frasa-frasa itu kini tidak bisa keluar dari mulut siapa pun.
Setiap pertanyaan harus dijawab apa adanya.
Setiap laporan harus jujur.
Setiap konferensi pers menjadi pertaruhan karier.
Lucunya, tidak ada kudeta.
Tidak ada kerusuhan besar.
Tidak ada rakyat menyerbu gedung-gedung tinggi.
Yang ada hanyalah kekacauan administratif.
Rapat berlangsung lebih singkat tapi lebih menyakitkan.
Laporan menjadi lebih tipis tapi lebih memalukan.
Dan untuk pertama kalinya, semua orang sadar bahwa sistem ini berjalan bukan karena kejelasan—melainkan karena semua orang sepakat tidak mengatakan semuanya.
Negara yang akhirnya mengatakan apa adanya.
Dan betapa tidak siapnya negara itu untuk mendengar dirinya sendiri.
Komentar
Posting Komentar