BAB 1: Pagi yang Terlalu Jujur
Pagi itu sebenernya pagi biasa.
Alarm bunyi.
Dimatiin.
Bunyi lagi.
Dimatiin lagi.
Bedanya, di sebuah rumah, ada yang bilang:
“Aku nggak telat. Aku cuma nggak niat.”
Kalimat itu keluar begitu aja, nyelonong di meja makan.
Biasanya kalimat itu disimpen di kepala. Hari ini? Keluar.
Istrinya ngelirik.
Anaknya berhenti makan sebentar.
“Kenapa?”
“Capek aja. Kerjaannya gitu-gitu doang.”
Nggak ada drama.
Cuma suasana aneh, kayak lupa pakai baju dalem pas keluar rumah—nggak kelihatan, tapi nggak nyaman.
Di rumah lain, seorang ibu bilang ke anaknya,
“Kerjain PR-nya ya. Bukan karena penting, tapi biar gurumu nggak cerewet.”
Anaknya manggut-manggut. Masuk akal.
Di kosan, ada yang bales chat,
“Maaf baru jawab. Aku lihat pesannya tadi malam dan mutusin tidur.”
Pesan itu dibaca.
Lawan bicaranya ngetik… lalu hapus… lalu diem.
Di jalan, macet masih macet.
Bedanya, orang-orang nggak lagi cari alasan.
“Aku nyalip karena emosi.”
“Aku klakson karena kesel.”
“Aku potong jalur karena males muter.”
Polisi berdiri sambil bilang,
“Saya nahan Anda karena ini prosedur. Bukan karena saya yakin ini bikin lalu lintas lebih baik.”
Semua terima.
Lalu lanjut macet.
Di warung kopi, barista nanya,
“Mau pesan apa?”
“Yang paling cepet jadi. Rasanya urusan belakangan.”
Barista senyum. Akhirnya ada pelanggan jujur.
Di kantor, rapat pagi jadi singkat.
“Target hari ini?”
“Ada.”
“Masuk akal?”
“Enggak.”
“Solusi?”
“Kita pura-pura kejar.”
“Setuju.”
Rapat selesai. Tidak ada yang pura-pura sibuk buka laptop.
Di sekolah, guru bilang,
“Ini materi ujian. Abis itu kemungkinan besar nggak kepake.”
Anak-anak nyatet.
Karena jujur lebih gampang dipercaya.
Menjelang siang, orang-orang mulai ngerasa capek sendiri.
Ternyata jujur itu boros energi.
Nggak bisa asal ngomong.
Nggak bisa ngeles.
Dan yang paling berat:
nggak bisa sembunyi di balik basa-basi.
Tapi anehnya, dunia nggak kiamat.
Kerjaan masih jalan.
Orang masih ngobrol.
Hubungan masih lanjut—walau agak kering.
Yang ilang cuma satu:
kepura-puraan kecil yang bikin hidup keliatan sopan.
Dan di pagi Hari Kejujuran Nasional itu, satu kesimpulan mulai muncul pelan-pelan di kepala semua orang:
Jujur itu bukan masalah moral.
Masalahnya cuma satu—
kuat nggak kuat.
Komentar
Posting Komentar