Bab 3: Hampir
Sejak hari ia hampir jatuh, Lyra jadi tidak sepenuhnya percaya pada langkah pertamanya.
Selalu ada jeda kecil sebelum bergerak, seperti ruang yang disisakan tubuhnya sendiri.
Jeda itu yang membawanya berhenti di depan kafe sore itu.
Lyra tidak berniat kembali ke kafe itu.
Ia hanya ingin memotong jalan sebelum hujan benar-benar turun. Udara menggantung berat, dan trotoar mengilap seperti baru diingatkan akan fungsinya. Saat pintu kafe terbuka oleh orang di depannya, Lyra sudah setengah melangkah masuk.
Bel berbunyi.
Ruang kafe itu sempit dan memanjang. Dari pintu, lantai mengarah lurus ke kasir di sisi kanan. Antrean biasanya memakan ruang tengah, memaksa orang-orang berdiri berderet ke belakang. Di sisi kiri, meja-meja kecil berjejal, sebagian tersembunyi di balik rak buku rendah dan tanaman gantung yang daunnya menjuntai sampai setinggi bahu.
Cahaya lampu kuning jatuh rendah. Wajah-wajah sering terpotong bayangan, membuat orang terlihat seperti versi yang tidak utuh dari dirinya sendiri.
Lyra bergerak ke kiri, memilih meja sudut yang setengah terlindung rak buku. Dari sana, pintu terlihat, tapi bukan orang-orang yang berdiri di antrean. Ia meletakkan tas di samping kursi, memastikan talinya tidak menyentuh lantai.
“Teh hitam?” tanya barista, suaranya bercampur dengung mesin kopi.
Lyra mengangguk.
Di luar, Bagas berhenti tepat di depan pintu kafe.
Ia tidak berencana masuk. Ia hanya melambat, melihat lantai yang masih basah dan papan kecil di dekat pintu yang tulisannya mulai pudar.
Hati-Hati Jatuh.
Ia mendengus pelan. Lalu pintu terbuka oleh seseorang yang keluar, dan bel berbunyi.
Hangat menyambutnya sebelum ia sempat berpikir. Di dalam, suara mesin kopi lebih dominan daripada percakapan. Musik diputar pelan, cukup untuk mengisi jeda, cukup untuk menenggelamkan detail.
Bagas berdiri di antrean yang menghadap kasir. Dari posisinya, yang terlihat hanya punggung orang-orang dan pantulan cahaya di kaca etalase. Meja-meja di kiri terhalang rak dan tanaman; wajah orang-orang yang duduk di sana tidak sepenuhnya terlihat.
Ia memesan kopi hitam.
Lyra membuka buku catatannya. Rak buku di depannya menutup sebagian pandangannya. Di celah antar buku, ia melihat sepatu orang-orang yang berdiri mengantre—gerak kecil kaki, geser halus, genangan air yang tertinggal.
Pintu terbuka lagi. Bel berbunyi.
Lyra mendongak sebentar, tapi yang tertangkap hanya bayangan gelap di ambang pintu sebelum tertelan cahaya dalam ruangan. Ia kembali ke bukunya.
Bagas menggeser langkah ketika seseorang dari meja sudut berdiri untuk mengambil tisu. Jalurnya sempit. Ia menepi. Ujung sepatunya menyentuh lantai basah.
Nyaris.
“Maaf,” katanya.
“Tidak apa-apa,” jawab suara perempuan itu, datang dari sisi yang tertutup rak. Suaranya tidak keras, tidak mencari perhatian.
Mereka tidak saling melihat. Bukan karena menghindar—karena tidak ada alasan untuk menatap.
Lyra mengambil tisu dan kembali ke mejanya. Ia merasakan ujung jaketnya tersentuh seseorang. Hanya sepersekian detik. Ia berhenti.
“Maaf,” katanya.
“Iya,” jawab seseorang, singkat.
Barista memanggil pesanan. Gelas diangkat. Mesin berhenti berdengung.
Bagas mengambil kopinya. Dari posisinya, meja sudut hanya tampak sebagai potongan lengan dan punggung rambut. Wajahnya tertutup bayangan lampu.
Lyra berdiri untuk pergi. Rak buku membuat jalurnya memutar. Ia melewati antrean tanpa menoleh, fokus pada lantai yang masih licin.
Pintu terbuka. Bel berbunyi.
Di ambang pintu, mereka berhenti hampir bersamaan—satu menunggu orang keluar, satu menunggu ruang.
Bahu hampir bersentuhan.
Hampir.
Lyra melangkah keluar lebih dulu. Bagas memberi ruang. Tidak ada tatapan yang tertinggal.
Di luar, hujan akhirnya turun.
Lyra berjalan ke kanan. Bagas ke kiri.
Beberapa langkah kemudian, Lyra berhenti, bukan karena alasan tertentu—hanya karena tubuhnya meminta jeda. Ia menoleh sedikit. Pintu kafe sudah tertutup. Bel tidak berbunyi lagi.
Bagas juga menoleh, lebih karena suara hujan berubah ritmenya. Jalan tampak biasa saja.
Mereka melanjutkan langkah.
Di antara rak buku, antrean sempit, cahaya rendah, dan kebiasaan manusia untuk tidak menatap terlalu lama, semesta mencatat satu kegagalan kecil yang rapi:
dua orang berada di ruang yang sama,
pada waktu yang sama,
cukup dekat untuk menyentuh—
dan cukup terpisah untuk tidak saling melihat.
Belum.
Komentar
Posting Komentar