Bab 2: Hal-Hal Kecil yang Tidak Sengaja

Sejak hari ia salah turun dari bus itu, Lyra jadi lebih sering berhenti di tengah langkahnya.

Bukan berhenti lama—hanya sepersekian detik, cukup untuk memastikan lantai tidak licin, cukup untuk merasakan berat tubuhnya sebelum benar-benar berpindah. Seolah ada bagian dari dirinya yang masih mengingat bagaimana rasanya hampir jatuh.

Tiga hari berlalu tanpa kejadian apa pun yang layak diceritakan. Pagi tetap datang. Pekerjaan tetap menuntut. Hujan tetap turun tanpa bertanya.

Sore itu, hujan turun terlalu tiba-tiba untuk disebut kebetulan. Jaket Lyra tipis, payungnya tertinggal—lagi. Ia berdiri di tepi trotoar, menimbang apakah akan berlari atau menunggu. Lalu ia melihat kafe kecil itu di seberang jalan.

Ia ragu sebentar.
Ini bukan rute biasanya.

Bel kecil di atas pintu berbunyi pelan saat ia masuk.

Hangat langsung menyambutnya. Bukan hanya dari mesin kopi, tapi dari cahaya lampu kuning yang dipasang terlalu rendah, seolah ruangan itu ingin orang-orang menunduk sedikit, bicara lebih pelan. Lyra berdiri sejenak, menyesuaikan napasnya, lalu melangkah masuk dengan hati-hati—lebih hati-hati dari yang ia kira perlu.

“Halo,” kata barista perempuan di balik meja. Suaranya datar tapi ramah.

“Teh,” kata Lyra. Ia menatap papan menu yang penuh pilihan.
“Yang… paling tidak ribet.”

Barista itu tersenyum kecil. “Teh hitam.”

Lyra duduk di kursi dekat jendela. Dari sana, ia bisa melihat jalan yang basah, lampu kendaraan memanjang di aspal, dan orang-orang yang berjalan cepat seolah tidak ingin diingatkan bahwa hujan bisa membuat apa pun licin.

Di dinding dekat kasir, ia melihat tulisan itu.

Hati-Hati Jatuh.
Jalanan Licin.

Lyra menelan ludah. Pergelangan kakinya terasa seperti mengingat sesuatu, sensasi samar yang tidak sakit, hanya… sadar. Ia menarik kursinya sedikit lebih dekat ke meja sebelum duduk sepenuhnya.

Tehnya datang. Hangat. Pahit ringan. Cukup untuk membuat tangan berhenti gemetar.

Ia membuka tas dan mengeluarkan buku catatan. Halamannya kosong—kecuali satu kalimat di halaman pertama, ditulis lama sekali, tintanya mulai pudar:

Jangan mengira semua yang datang ingin tinggal.

Lyra menyentuh kalimat itu dengan ujung jari, lalu menutup bukunya lagi. Ia belum ingin menambah apa pun hari ini.

Di sisi kota yang lain, Bagas menatap layar komputernya tanpa benar-benar membaca.

Kursornya berkedip di tengah paragraf. Ia memindahkan mouse, lalu berhenti lagi. Ada dorongan aneh untuk bangkit dari kursi—tanpa tahu untuk apa.

“Mas, kopi?” tanya rekan kerjanya.

Bagas mengangguk. “Boleh.”

Kafe kecil di lantai dasar kantor itu tidak istimewa. Cat dindingnya polos, meja-mejanya terlalu dekat satu sama lain. Bagas memesan kopi hitam dan berdiri menunggu. Saat mesin berdengung, ia menoleh ke papan kecil di dekat pintu.

Hati-Hati Jatuh.

Ia mengernyit, lalu tersenyum singkat, seperti orang yang hampir mengingat lelucon lama.

Hari itu, ia melakukan dua kesalahan kecil: salah kirim email dan hampir menabrak tiang parkir. Tidak fatal. Tidak penting. Cukup untuk membuatnya menarik napas lebih panjang dari biasanya.

Di perjalanan pulang, lampu merah menyala lebih lama. Bagas berhenti, menurunkan kaki, dan membiarkan motor diam. Hujan meninggalkan bau tanah yang bersih.

Seperti seseorang yang hampir mengingat sesuatu—lalu memilih tidak mengejarnya.

Lyra membayar tehnya dan berdiri. Kakinya tersangkut sedikit di karpet pintu. Nyaris jatuh. Ia berpegangan pada gagang pintu, tertawa pelan, lebih karena lega daripada lucu.

“Kayaknya aku memang harus hati-hati,” gumamnya.

Di luar, hujan sudah berhenti. Jalan masih basah, tapi terasa bisa dilewati. Lyra berjalan pulang dengan langkah yang lebih sadar—tidak lambat, tidak cepat.

Malam turun tanpa pengumuman.

Tidak ada pertemuan hari ini. Tidak ada pesan. Tidak ada tanda besar. Hanya sisa-sisa gerak kecil yang tertinggal di tubuh masing-masing—seperti catatan kaki yang tidak dibaca siapa pun.

Semesta, sementara itu, tidak melakukan apa-apa yang mencolok.
Ia hanya memastikan satu hal sederhana:

dua orang sedang belajar menapak dengan lebih jujur,
di jalan yang sama-sama licin,
menuju garis yang belum ingin mereka beri nama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DENTING

Epilog – Denting Terakhir

Bab 2 – Laut yang Tak Lagi Sama