Hati-Hati Jatuh, Jalanan Licin

Di suatu malam yang sunyi, seorang perempuan meniup lilin ulang tahunnya seorang diri.

Ia tidak membuat pesta. Tidak mengundang siapa pun.
Hanya ada sepotong kue kecil, secangkir teh yang mulai dingin,
dan lampu kamar yang redup seperti ikut menjaga jarak.

Ia menutup mata.
Bukan untuk berharap besar—hanya ingin meminta satu hal kecil
yang bahkan tidak masuk akal.

“Jika dia bukan jodohku,” katanya dalam hati,
pelan, hampir seperti ia takut terdengar oleh dirinya sendiri,
“biarkan aku bertemu dia lagi.
Setidaknya… saat aku butuh arah.”

Tak ada yang berubah.
Tidak ada angin bergerak.
Tidak ada suara menjawab.

Hanya keheningan yang turun, sangat pelan,
seperti debu yang memilih ke mana ia ingin jatuh.

Namun pada detik itu juga, di tempat lain,
dunia menahan napasnya sebentar.
Lampu-lampu jalan meredup sepersekian detik.
Air di ujung atap berhenti sebelum sempat menyentuh tanah.
Jalan raya melambat, seolah seseorang menggeser waktu satu milimeter ke samping.

Tidak ada manusia yang sadar.
Tidak ada yang mengingat.

Kecuali dua hati yang pernah saling menunggu,
tanpa tahu bahwa sejak malam itu,
setiap langkah mereka—
di kota mana pun, pada waktu yang mana pun—
akan selalu saling bergetar.

Semuanya akan tampak seperti kebetulan.
Seperti pertemuan yang tidak sengaja.
Seperti takdir yang tersenyum kecil tanpa alasan.

Sampai mereka menyadari satu hal yang sama:

Ada doa kecil yang semesta dengar,
dan sekali sebuah doa membuat retakan,
dunia akan selalu mencari cara
untuk mempertemukan dua orang
yang seharusnya tidak lagi bertemu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DENTING

Epilog – Denting Terakhir

Bab 2 – Laut yang Tak Lagi Sama