Bab 8: Ketika Nama Itu Muncul

Yasmin tidak langsung tahu siapa perempuan itu.

Ia hanya tahu ada sesuatu yang berubah sejak pagi itu—cara Bagas menyiapkan kopi tanpa bercanda, cara ia mengangguk terlalu cepat ketika Yasmin berbicara, seolah takut tertinggal oleh pikirannya sendiri.

Mereka duduk berhadapan di meja kecil dekat jendela. Cahaya siang jatuh datar. Kota berjalan seperti biasa, tidak tahu ada satu percakapan yang sedang mencari pijakan.

“Waktu itu,” kata Bagas, akhirnya, “perempuan yang aku ceritakan…”

Yasmin mengangkat kepala. Tidak terkejut. Ia sudah menunggu kalimat itu, hanya tidak tahu kapan akan datang.

“Namanya Lyra.”

Nama itu tidak menggema. Tidak berisik. Ia jatuh seperti kunci kecil ke dalam air—tidak memercik, tapi cukup dalam untuk membuat lingkaran.

Yasmin mengulangnya dalam hati. Lyra.
Nama yang terasa lembut. Nama yang tidak terdengar seperti masa lalu yang buruk.

“Dia… mantan?” tanyanya.

“Iya.”

Tidak ada embel-embel. Tidak ada pembelaan. Hanya satu kata yang berdiri sendiri.

Yasmin mengangguk pelan. Ia menyesap minumannya. Memberi ruang pada fakta untuk duduk dengan tenang. Di dalam dadanya, ada tarikan kecil—bukan cemburu, bukan takut. Lebih seperti kesadaran yang menemukan bentuknya.

“Kalian bertemu?” tanyanya lagi.

Bagas ragu sepersekian detik. “Tidak sengaja.”

Yasmin tersenyum kecil. Bukan karena lucu. Karena ia tahu—tak ada yang benar-benar tidak sengaja bagi orang-orang yang pernah saling mengenal terlalu baik.

“Bagaimana rasanya?” ia bertanya.

Pertanyaan itu membuat Bagas menatapnya lama. Seolah ia baru sadar bahwa Yasmin tidak sedang meminta laporan. Ia sedang menawarkan kejujuran.

“Berat,” katanya. “Tapi… bersih.”

Yasmin mengangguk lagi. Ia mengerti jenis rasa itu. Rasa yang tidak meminta diselesaikan, hanya diakui.

“Aku tidak ingin kamu berbohong,” kata Yasmin. “Bukan padaku. Bukan pada dirimu.”

Bagas menghela napas. Bahunya turun sedikit. Seperti seseorang yang akhirnya diizinkan meletakkan beban.

“Aku tidak ingin kehilangan apa yang sedang kita bangun,” katanya.

Yasmin menatapnya. Tenang. Tidak melunak, tidak mengeras.

“Aku juga tidak ingin berada di tengah sesuatu yang belum selesai,” jawabnya.

Kalimat itu bukan ancaman. Bukan ultimatum. Hanya garis yang ditarik dengan hati-hati.

Mereka diam. Beberapa detik. Mungkin lebih. Di luar, seorang anak tertawa. Sendok beradu dengan cangkir. Dunia tidak ikut menahan napas.

“Dia tidak datang untuk kembali,” kata Bagas, akhirnya. Seperti meyakinkan. Entah Yasmin, entah dirinya sendiri.

Yasmin menerima kalimat itu. Tapi ia tahu—beberapa hal tidak perlu datang untuk tetap tinggal.

“Aku percaya kamu,” katanya. Dan ia memang percaya.
“Tapi aku juga percaya pada diriku.”

Ia meraih tasnya, berdiri. Tidak tergesa. Tidak marah.

“Aku tidak pergi,” katanya. “Aku hanya tidak ingin berdiri di ambang.”

Bagas ikut berdiri. Ada sesuatu di matanya—ketakutan yang tidak ingin ia akui.

“Kita masih bisa lanjut,” katanya.

Yasmin tersenyum. Kali ini, lebih sedih dari sebelumnya.

“Kita bisa,” katanya. “Kalau kita berjalan di arah yang sama.”

Ia melangkah pergi. Tidak menoleh. Bukan karena tidak peduli—melainkan karena ia sudah terlalu lama belajar menoleh untuk memastikan orang lain masih ada.

Di luar, cahaya siang terasa terlalu terang. Yasmin berjalan beberapa langkah, lalu berhenti. Menghirup udara dalam-dalam.

Ia tidak tahu bagaimana cerita ini akan berakhir.
Ia hanya tahu satu hal dengan pasti:

kali ini, apa pun yang terjadi,
ia tidak akan kehilangan dirinya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DENTING

Epilog – Denting Terakhir

Bab 2 – Laut yang Tak Lagi Sama