Bab 10: Hal-Hal yang Tidak Ia Ketahui
Restoran itu tidak berubah banyak.
Lampunya masih kuning hangat. Meja kayunya masih menyisakan bekas goresan tipis. Bahkan papan menu di dekat kasir masih ditulis dengan spidol yang sama, meski tulisannya sedikit lebih miring dari terakhir kali Bagas ingat.
Ia datang lebih dulu. Duduk di meja dekat jendela, meja yang tidak terlalu strategis tapi cukup tenang. Pelayan menyapanya dengan anggukan kecil—bukan karena mengenali, hanya karena kebiasaan.
Bagas membuka menu.
Matanya berhenti sebentar.
Sup jamur.
Ayam panggang dengan saus lada.
Es teh tawar, tanpa gula.
Ia menutup menu lagi. Tidak sadar kenapa dadanya mengencang sebentar, lalu kembali normal.
Yasmin datang beberapa menit kemudian. Mereka saling tersenyum—bukan senyum besar, hanya yang perlu. Ia duduk di seberang Bagas, meletakkan tasnya di kursi kosong.
“Maaf telat,” katanya.
“Nggak apa,” jawab Bagas. Dan memang tidak apa-apa.
Mereka memesan. Yasmin memilih menu dengan cepat. Bagas menyebut pesanannya, lalu berhenti.
“Sup jamurnya masih enak?” tanyanya pada pelayan.
Pelayan mengangguk.
“Masih jadi favorit, Mas.”
Bagas mengangguk pelan.
“Yaudah. Itu satu.”
Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia memesan itu.
Ia hanya tahu tangannya melakukannya tanpa diminta.
Mereka mengobrol tentang hari yang berjalan biasa. Tentang pekerjaan. Tentang rencana akhir pekan yang belum pasti. Tidak ada nada besar. Tidak ada arah yang ditarik paksa.
Ketika makanan datang, Bagas mencicipi supnya. Rasanya sama. Tidak istimewa. Tidak juga mengecewakan.
Ia teringat—tanpa gambar yang jelas—seseorang yang selalu menambahkan lada terlalu banyak. Seseorang yang akan berkata, “Kalau nggak pedas, rasanya nanggung.”
Ingatan itu datang dan pergi cepat.
Bagas tidak mengejarnya.
“Kenapa?” tanya Yasmin, melihatnya diam sebentar.
“Nggak,” jawab Bagas. “Cuma kepikiran ini masih sama rasanya.”
Yasmin tersenyum. “Berarti nggak salah pilih tempat.”
Bagas mengangguk. Ia ingin bilang iya.
Ia ingin bilang selalu.
Tapi kata itu tidak keluar.
Mereka makan pelan. Ada jeda di antara kalimat, tapi jeda itu tidak canggung. Yasmin bercerita tentang sesuatu yang membuatnya kesal siang tadi. Bagas mendengarkan, menanggapi secukupnya. Ia hadir. Ia berusaha.
Di luar jendela, hujan mulai turun. Tipis. Lampu jalan memantul di aspal basah.
Bagas menatap keluar sebentar. Ia ingat pernah duduk di sisi jendela ini, memprotes hujan karena datang terlalu cepat. Pernah ada tawa kecil di meja yang sama. Pernah ada tangan yang dengan sengaja menyenggol lengannya hanya untuk memastikan ia masih di sana.
Sekarang, meja itu diisi oleh percakapan lain.
Bukan pengganti.
Hanya berbeda.
Saat mereka berdiri untuk pulang, Yasmin mengenakan jaketnya. Bagas membukakan pintu. Hujan sudah hampir berhenti.
“Tempat ini nyaman,” kata Yasmin.
“Iya,” jawab Bagas. “Dari dulu.”
Ia tidak tahu kenapa ia memilih kata itu.
Mereka berpisah di depan restoran. Tidak ada janji yang diucapkan. Tidak juga pelukan yang tertunda. Hanya kesepakatan diam bahwa mereka akan bertemu lagi, entah kapan.
Bagas berjalan ke mobilnya. Menyalakan mesin. Sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah restoran itu. Lampunya masih menyala. Meja dekat jendela sudah ditempati orang lain.
Ia tidak merasa kehilangan apa pun.
Ia hanya merasa—selama sepersekian detik—
seperti melewati sesuatu yang pernah penting,
tanpa tahu bahwa hal itu masih hidup
di tempat lain.
Dan mungkin, itulah yang paling jujur tentang Bagas malam itu:
ia mengingat,
tanpa menyadari
apa yang sedang ia lupakan.
Komentar
Posting Komentar