Bab 7: Tempat yang Tidak Pernah Dijanjikan
Yasmin tahu ada yang berubah bahkan sebelum Bagas mengatakannya.
Bukan dari kata-kata—Bagas selalu rapi soal itu.
Tapi dari cara ia pulang malam itu, dengan jeda yang terlalu panjang sebelum membuka pintu mobil.
Yasmin menunggu di seberang jalan. Ia melihat Bagas duduk di balik kemudi lebih lama dari perlu. Hujan sudah berhenti, mesin sudah mati, tapi tangannya masih menggenggam setir, seolah ada sesuatu yang belum siap ia lepaskan.
Ada orang yang pulang membawa lelah.
Ada yang pulang membawa diam.
Dan Yasmin tahu—tanpa tahu alasannya—Bagas membawa yang kedua.
Ia tidak bertanya malam itu. Tidak karena takut pada jawabannya, tapi karena ia mengenali bahasa tubuh orang yang sedang menahan diri. Yasmin pernah berada di sisi itu sebelumnya. Terlalu lama.
Yasmin belajar lebih awal bahwa menunggu tidak selalu berarti dicintai.
Ia pernah berada di hidup seseorang yang selalu berkata, sebentar lagi.
Sebentar lagi berani.
Sebentar lagi siap.
Sebentar lagi memilih.
Dan Yasmin—dengan kesabaran yang waktu itu ia kira sebagai cinta—berdiri di ambang pintu terlalu lama. Tidak diusir. Tidak dipersilakan masuk. Hanya cukup dekat untuk merasa dilibatkan, dan cukup jauh untuk tidak benar-benar diakui.
Ia pergi bukan karena marah.
Ia pergi karena suatu pagi, ia sadar:
tidak ada rumah yang dibangun di ambang.
Sejak itu, Yasmin berubah.
Ia menjadi perempuan yang rapi mengurus hidupnya sendiri. Pekerjaannya berjalan. Hari-harinya terisi. Ia belajar menyelesaikan masalah tanpa perlu menunggu siapa pun datang. Ia pandai tersenyum, pandai hadir, dan sangat pandai tidak merepotkan.
Terlalu pandai.
Ketika Bagas masuk ke hidupnya, Yasmin tidak merasa jatuh.
Ia merasa nyaman.
Tidak ada gejolak berlebihan. Tidak ada janji besar. Hanya percakapan yang mengalir, jeda yang dihormati, dan kehadiran yang tidak membuatnya harus mengecil agar muat.
Yasmin menyukai itu.
Ia menyukai cara Bagas tidak terburu-buru. Cara ia mendengarkan tanpa memperbaiki. Cara ia tidak menuntut, seolah kebersamaan mereka adalah kesepakatan dua orang dewasa, bukan perlombaan untuk sampai duluan.
Namun justru karena itulah, Yasmin berhati-hati.
Ia tahu seperti apa rasanya bersama seseorang yang tidak pergi,
tapi juga tidak sepenuhnya datang.
Dan ia berjanji pada dirinya sendiri:
ia tidak akan mengulang posisi yang sama, seaman apa pun rasanya.
Malam itu, setelah Bagas akhirnya masuk ke rumah, Yasmin duduk sendirian di ruang tamu. Lampu tidak dinyalakan. Kota di luar jendela cukup terang untuk menemani pikirannya.
Ponselnya tergeletak di meja. Sunyi.
Ia tidak menunggu pesan.
Ia hanya berpikir.
Tentang betapa mudahnya ia terbiasa tidak meminta.
Tentang betapa refleksnya ia menyesuaikan diri agar tidak mengganggu.
Tentang betapa cepatnya ia menempatkan dirinya cukup, tanpa pernah bertanya apakah ia benar-benar diinginkan sepenuhnya.
Yasmin menutup mata.
Ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya hangat sekaligus nyeri:
bahwa ia telah menjadi sangat mandiri
bukan karena tidak butuh,
melainkan karena terlalu sering tidak dipilih.
Dan kali ini, ia tidak ingin sekadar kuat.
Ia ingin jelas.
Bukan untuk Bagas.
Tapi untuk dirinya sendiri.
Karena Yasmin tahu—
jika ia kembali berdiri di ambang,
itu bukan karena tidak ada pintu yang terbuka,
melainkan karena ia lupa
bahwa ia berhak mengetuk
dan menunggu jawaban.
Komentar
Posting Komentar