Bab 4: Orang-Orang yang Datang Tepat Waktu

Taman kota itu tidak pernah benar-benar ramai, tapi sore itu terasa penuh.

Bukan oleh jumlah orang, melainkan oleh suara: langkah kaki yang saling menyilang, anak kecil tertawa terlalu keras, daun-daun yang digeser angin tanpa arah. Lyra datang tanpa rencana. Ia hanya berjalan lebih jauh dari biasanya, mengikuti tubuhnya yang hari itu terasa… gelisah.

Ia duduk di bangku kayu yang catnya mulai mengelupas. Meletakkan tas di samping. Menarik napas.

Entah kenapa, dadanya terasa sedikit sempit.

Bukan sesak.
Lebih seperti ruang yang mengecil satu tingkat, tanpa peringatan.

Lyra mengira ia hanya lelah.

Ia memejamkan mata sebentar, lalu membukanya lagi ketika mendengar suara tawa di belakangnya—tawa laki-laki, rendah, singkat, seperti refleks yang tidak dibuat-buat. Ada sesuatu dalam suara itu yang membuat punggungnya menegang.

Ia menoleh.

Tidak ada apa-apa yang istimewa. Beberapa orang berdiri di dekat stan kopi kecil di ujung taman. Sepasang burung merpati berebut remah roti. Dunia tetap di tempatnya.

Namun perasaan itu tidak pergi.

Lyra menggeser posisi duduk, tanpa sadar menjejakkan kaki lebih hati-hati, seperti lantai di sekitarnya bisa berubah licin kapan saja.


Bagas sebenarnya tidak berniat berhenti lama di taman itu.

Ia hanya menemani Yasmin, yang ingin melihat pameran foto kecil di dekat perpustakaan kota. Foto-foto hitam putih tentang jalanan, wajah-wajah asing, sudut kota yang sering dilewati tapi jarang diperhatikan.

“Kamu sering ke tempat seperti ini?” tanya Bagas.

“Enggak,” jawab Yasmin jujur. “Makanya pengin coba.”

Jawabannya sederhana. Tidak defensif. Tidak berusaha terlihat menarik.

Bagas menyukainya.

Mereka berdiri cukup dekat—tidak terlalu dekat untuk disebut intim, tapi cukup untuk saling berbagi ruang tanpa canggung. Yasmin menunjuk salah satu foto. Bagas mencondongkan badan sedikit untuk melihat.

Di saat itulah, tanpa alasan yang jelas, Bagas berhenti bernapas sepersekian detik.

Seperti ada yang… bergeser.

Bukan suara. Bukan bayangan. Hanya perasaan aneh bahwa jika ia menoleh sekarang, ada sesuatu yang penting akan terlewat—atau ditemukan.

Tangannya refleks mengencang di tali tas.

“Kamu kenapa?” tanya Yasmin.

Bagas menggeleng pelan. “Nggak apa-apa.”

Ia tidak menoleh.

Dan dengan tidak menoleh itu, sesuatu yang tidak ia sadari pun lewat begitu saja, hanya menyisakan jejak samar di tubuhnya.


Lyra berdiri.

Ia tidak tahu kenapa ia berdiri. Tidak ada alasan logis. Bangku itu nyaman. Sore itu tidak mendesaknya ke mana-mana.

Namun kakinya sudah bergerak lebih dulu.

Ia berjalan melewati jalur batu, melewati pohon flamboyan yang bunganya gugur terlalu cepat. Semakin dekat ke tengah taman, dadanya justru semakin berat, seperti ia berjalan melawan arus yang tak terlihat.

Langkahnya melambat.

Ia hampir menabrak seseorang.

“Hati-hati,” kata seorang perempuan.

Lyra tersentak. “Maaf.”

Perempuan itu tersenyum. Wajahnya tenang, terbuka, seperti seseorang yang tidak menyimpan rahasia di saku bajunya. Di belakangnya, berdiri seorang laki-laki—tinggi, bahunya sedikit condong ke depan, seperti terbiasa menahan sesuatu sendirian.

Mata Lyra tidak pernah benar-benar melihat wajahnya.

Namun tubuhnya bereaksi.

Jantungnya jatuh satu tingkat, seperti lift yang berhenti terlalu cepat. Kakinya salah menapak, dan ia nyaris kehilangan keseimbangan.

Perempuan itu reflek meraih lengannya. “Kamu nggak apa-apa?”

“Iya,” jawab Lyra terlalu cepat. “Aku cuma… kurang hati-hati.”

Ia tertawa kecil, tapi suaranya tidak sepenuhnya miliknya.

Laki-laki di belakang perempuan itu ikut tersenyum sopan. Senyum singkat. Netral. Tidak ada yang istimewa.

Namun saat senyum itu muncul, dunia Lyra terasa seperti dimiringkan satu derajat ke kiri.

Ia mundur selangkah. “Makasih.”

Ia pergi sebelum perasaannya sempat mengejar nama.


Bagas menoleh tepat ketika Lyra membelakanginya.

Bukan karena ia melihat wajahnya.
Bukan karena sesuatu yang jelas.

Hanya dorongan aneh, seperti ketika seseorang menyebut nama kita di ruangan lain.

Namun yang ia lihat hanya punggung perempuan asing yang berjalan menjauh dengan langkah terlalu hati-hati, seolah tanah di depannya bisa mengkhianatinya kapan saja.

“Ada apa?” tanya Yasmin lagi.

Bagas berkedip. “Nggak. Kupikir… ah, nggak penting.”

Yasmin tidak memaksa. Ia hanya mengangguk, lalu kembali menatap foto-foto itu, memberi Bagas ruang untuk mengabaikan perasaannya sendiri.

Dan Bagas, dengan rasa bersalah kecil yang tidak ia pahami, memilih kenyamanan yang ada di depannya.


Lyra berhenti di tepi taman.

Tangannya gemetar ringan saat ia meraih ponsel, lalu menyadari tidak ada siapa pun yang ingin ia hubungi. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan sesuatu yang bahkan belum ia beri nama.

“Aneh,” gumamnya. “Kenapa barusan rasanya kayak… hampir jatuh?”

Padahal ia tidak terpeleset.
Tidak ada lantai basah.
Tidak ada kesalahan langkah.

Namun tubuhnya tahu sesuatu yang pikirannya tidak.

Di tengah taman, Bagas tertawa kecil mendengar komentar Yasmin tentang salah satu foto. Tawa yang sama—yang beberapa menit lalu membuat Lyra menoleh tanpa tahu alasan.

Lampu taman menyala hampir bersamaan. Satu detik terlalu cepat. Tidak ada yang memperhatikan.

Kecuali semesta, yang sekali lagi, memilih tidak mempertemukan—
hanya mendekatkan cukup jauh untuk meninggalkan bekas.

Dan malam itu, masing-masing pulang dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan:

Lyra, dengan keyakinan ganjil bahwa ia baru saja melewatkan sesuatu yang penting.
Bagas, dengan ketenangan yang terasa sedikit terlalu dipaksakan.
Yasmin, dengan rasa nyaman yang tumbuh tanpa tahu apa yang nyaris ia gantikan.

Tidak ada yang salah.
Tidak ada yang jahat.

Namun sejak hari itu, takdir berhenti bersikap netral.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DENTING

Epilog – Denting Terakhir

Bab 2 – Laut yang Tak Lagi Sama