Bab 13: Gema yang Terakhir
Mereka bertemu tanpa rencana.
Bukan karena janji yang tertunda, bukan pula karena semesta sengaja menata ulang langkah. Hanya dua orang yang kebetulan berada di tempat yang sama, di jam yang sama, pada hari yang tidak meminta makna apa pun.
Lyra sedang menunggu minumannya ketika ia mendengar suara itu memesan di belakangnya. Ia tidak langsung menoleh. Ia tahu siapa itu, dan ia tahu—kali ini—ia tidak perlu bersiap.
“Ly,” kata Bagas, pelan.
Lyra menoleh. “Hai.”
Tidak ada kejutan. Tidak ada detak yang melonjak. Wajah Bagas terlihat sama, hanya lebih tenang. Seperti seseorang yang sudah memutuskan banyak hal, dan tidak lagi sibuk membenarkannya.
“Kamu kelihatan baik,” kata Bagas.
Lyra tersenyum. “Kamu juga.”
Kalimat itu jatuh biasa. Tidak diuji. Tidak ditarik ke mana-mana.
Mereka duduk. Meja kecil di dekat jendela. Dua minuman yang mengepul perlahan. Beberapa detik pertama diisi oleh keheningan yang tidak canggung—keheningan yang tidak perlu dipecahkan.
“Aku nggak lama,” kata Bagas. Bukan permintaan, hanya penanda.
“Iya,” jawab Lyra. “Aku juga.”
Bagas menarik napas. “Aku mau bilang… aku dan Yasmin baik. Kami serius.”
Lyra mengangguk. Tidak ada apa pun yang perlu diproses. “Aku tahu.”
Bagas menatapnya, sejenak. “Aku senang dengarnya.”
“Kenapa?” tanya Lyra, tanpa nada menantang.
“Karena kamu kelihatan… sudah sampai,” kata Bagas. “Ke tempatmu sendiri.”
Lyra tersenyum kecil. “Aku juga senang kamu sampai ke tempatmu.”
Mereka diam lagi. Bukan karena tidak ada yang bisa dikatakan, tapi karena tidak ada yang perlu diselesaikan.
“Aku sempat takut,” kata Bagas, jujur. “Takut pertemuan ini bikin semuanya berat lagi.”
Lyra menggeleng. “Aku nggak merasa berat.”
“Kenapa?”
“Karena nggak ada yang tertinggal,” kata Lyra. “Kalau pun ada, itu sudah bukan beban.”
Bagas mengangguk. Wajahnya rileks. Seperti seseorang yang akhirnya boleh berhenti meminta maaf pada masa lalu.
“Aku berharap kamu bahagia,” katanya.
Lyra menatapnya. “Aku berharap kamu jujur pada hidup yang kamu pilih.”
“Itu yang sedang aku lakukan.”
Mereka berdiri hampir bersamaan. Tidak ada pelukan. Tidak ada janji untuk bertemu lagi. Tidak ada kalimat yang ingin diingat lebih lama dari yang lain.
Di luar, jalanan basah sisa hujan pagi. Lyra melangkah lebih dulu, lalu berhenti sebentar.
“Gas,” katanya.
Bagas menoleh.
“Makasih,” kata Lyra. “Bukan untuk apa yang pernah ada. Tapi karena kamu nggak menahannya.”
Bagas tersenyum. “Kamu juga.”
Mereka berpisah arah.
Lyra berjalan tanpa menoleh. Bukan karena kuat, tapi karena tidak perlu. Ia menyadari sesuatu yang ringan dan pasti: pertemuan ini bukan penutup, bukan pula awal. Hanya gema terakhir dari sesuatu yang sudah selesai sejak lama.
Dan untuk pertama kalinya, gema itu tidak meminta apa pun darinya.
Tidak ada yang berubah secara drastis setelah pertemuan itu.
Dan justru di situlah kelegaannya.
Lyra menjalani hari-harinya tanpa menunggu tanda. Pagi datang seperti pagi lain: cahaya masuk lewat celah tirai, suara kota bergerak perlahan, dan pikirannya tidak lagi sibuk mengulang kalimat yang seharusnya ia ucapkan bertahun lalu. Ia menyadari, kenangan tidak pergi—ia hanya berhenti mengetuk.
Kadang Bagas masih muncul sekilas. Di lagu yang tak sengaja diputar. Di kafe dengan kursi yang terlalu familiar. Tapi kemunculan itu tidak lagi meminta ruang. Hanya lewat, lalu pergi. Seperti seseorang yang sudah pamit dengan benar.
Ada jeda kecil di dalam dirinya. Ruang yang dulu penuh harap, kini kosong dengan cara yang baik. Kosong yang tidak menakutkan. Kosong yang memberi kemungkinan.
Lyra tidak buru-buru mengisinya.
Ia belajar menikmati langkahnya sendiri—tanpa membandingkan arah, tanpa mengukur jarak siapa pun. Untuk pertama kalinya, ia tidak sedang menuju seseorang. Ia hanya berjalan.
Dan di suatu hari yang tidak diberi penanda apa-apa, ketika ia tertawa pada hal sepele yang tidak ingin ia ceritakan pada siapa pun, Lyra menyadari:
Ia sudah berhenti menunggu.
Dan semesta, seperti biasa, suka bertemu orang tepat setelah itu.
Komentar
Posting Komentar