Bab 9: Kejujuran yang Terlambat

Pagi itu tidak membawa apa-apa yang istimewa.

Langit cerah, terlalu sopan untuk hari yang seharusnya sulit.

Lyra bangun, menjerang air, menunggu suara mendidih yang datang sedikit lebih lama dari biasanya. Ia berdiri di dapur tanpa berpindah tempat, seolah tubuhnya lupa urutan gerak yang biasa. Ketika uap naik, ia menuang air ke cangkir—lalu baru sadar ia lupa memasukkan kopi.

Ia menghela napas kecil. Tertawa singkat.
Hal-hal kecil seperti itu belakangan sering terjadi.

Di jalan, kota bergerak seperti biasa. Orang-orang berjalan cepat, yakin pada tujuan masing-masing. Lyra ikut di antara mereka, langkahnya pas, wajahnya tenang. Tidak ada yang tahu bahwa pagi itu ia sedang berusaha keras untuk tidak memikirkan sesuatu yang tidak ingin ia beri nama.

Di kantor, layar komputer menyala. Ia membaca satu surel berulang kali tanpa benar-benar menyerap isinya. Kalimat-kalimatnya jelas, tapi maknanya terasa jauh—seperti percakapan dari ruangan lain.

Saat makan siang, ia duduk di meja yang menghadap ke dalam. Bukan jendela. Ia memilihnya tanpa alasan yang jelas, kecuali perasaan samar bahwa ada arah pandang tertentu yang sebaiknya dihindari.

Ia menyuap pelan. Tidak lapar. Tidak juga sedih.
Hanya ada rasa tidak tepat, seperti mengenakan pakaian yang ukurannya benar tapi bahannya salah.

Sore hari, hujan turun tipis. Lyra membuka ponsel, menatap layar kosongnya lebih lama dari perlu. Tidak ada pesan yang ingin ia kirim. Tidak ada nama yang berani ia ketik. Ia mematikan layar, lalu menyalakannya lagi—kebiasaan kecil yang tidak membawa ke mana-mana.

Di rumah, ia duduk di lantai. Tasnya terbuka di samping. Buku catatan abu-abu itu akhirnya ia keluarkan. Sudah lama ia membelinya, seolah tahu suatu hari ia akan membutuhkannya, tapi menunda hari itu selama mungkin.

Ia membuka halaman pertama.

Kosong.

Lyra memegang pulpen. Ujungnya menggantung di udara, ragu, seperti seseorang yang berdiri di depan pintu lama dan bertanya apakah masih pantas mengetuk.

Ia menulis pelan.

Aku pikir perasaan bisa habis jika cukup lama ditinggal.

Ia berhenti. Membaca ulang kalimat itu.
Lalu melanjutkan, tanpa memperindah:

Ternyata tidak.

Baris berikutnya datang lebih kecil, tapi lebih pasti:

Ia hanya menjadi sunyi.

Lyra menutup mata sejenak. Tidak ada air mata. Tidak ada sesak. Hanya kelegaan yang aneh—seperti akhirnya mengakui sesuatu yang sudah lama ia ketahui, tapi terlalu sopan untuk diucapkan.

Ia menulis lagi. Tidak panjang.

Aku masih mencintainya.

Tidak ada embel-embel. Tidak ada penjelasan.
Kalimat itu berdiri sendiri, sederhana, dewasa, dan tidak meminta apa pun.

Lyra menatapnya lama.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa ingin menarik kembali kejujuran itu.

Ia mengerti sekarang: selama ini ia tidak berbohong pada siapa pun. Ia hanya menunda berkata jujur pada dirinya sendiri, berharap waktu akan menyelesaikan sisanya.

Ternyata waktu tidak menyelesaikan.
Ia hanya mengajarkan cara bertahan.

Malam turun perlahan. Hujan berhenti. Kota mengering cepat, seolah tidak ingin menyimpan bekas apa pun. Lyra menutup buku catatan itu, meletakkannya kembali ke tas.

Kejujuran itu akhirnya datang.
Tidak membawa solusi.
Tidak membuka pintu apa pun.

Hanya berdiri di sana—terlambat, tenang, dan tidak bisa ditarik kembali.

Lyra mematikan lampu. Berbaring. Menatap langit-langit gelap.

Ia tidak berniat kembali.
Ia juga tidak berharap apa-apa.

Namun malam itu, Lyra tahu dengan pasti:
beberapa perasaan tidak pergi karena salah memilih,
melainkan karena kita terlalu lama berharap
mereka akan pergi sendiri.

Dan kejujuran seperti itu,
ketika akhirnya diucapkan,
tidak mengubah masa depan—
hanya memastikan
bahwa tidak ada lagi kebohongan
yang bisa ia gunakan
untuk menghibur dirinya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DENTING

Epilog – Denting Terakhir

Bab 2 – Laut yang Tak Lagi Sama