Bab 5: Orang yang Pernah Pulang
Lyra tidak berniat bertemu siapa pun hari itu.
Ia hanya ingin membeli buku catatan baru—yang kertasnya tidak terlalu putih, tidak terlalu kasar. Buku yang cukup netral untuk menampung pikiran tanpa menghakimi. Ia sudah belajar bahwa beberapa hari lebih baik dilewati dengan benda-benda kecil yang tidak bertanya apa pun.
Toko itu tenang. Pendingin udara berdengung pelan. Seorang kasir menunduk di balik layar. Tidak ada musik—hanya suara halaman dibalik sesekali, seperti seseorang yang ragu mengambil keputusan.
Lyra berjalan menyusuri rak.
Dan berhenti.
Bukan karena melihat sesuatu.
Tapi karena tubuhnya mengenali kehadiran sebelum pikirannya sempat menyusun kata.
Ada jeda yang tidak masuk akal—seperti ketika lampu lalu lintas berubah terlalu cepat dan orang-orang di persimpangan lupa harus melangkah atau berhenti.
Ia mengangkat kepala.
Bagas berdiri dua rak di seberangnya.
Lebih kurus sedikit, pikir Lyra, tanpa sadar. Rambutnya lebih pendek. Cara berdirinya masih sama—satu kaki sedikit ke depan, seolah siap pergi kapan saja. Ia memegang buku dengan satu tangan, jempolnya menyelip di antara halaman, kebiasaan lama yang dulu Lyra kenal tanpa perlu melihat.
Mata mereka bertemu.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada dunia runtuh.
Tidak ada musik dramatis.
Yang ada hanya keheningan yang terlalu penuh.
Bagas yang pertama tersenyum. Bukan senyum lega. Bukan senyum bahagia. Tapi senyum sopan—senyum yang digunakan orang ketika bertemu seseorang yang sangat dikenal, tapi tidak lagi punya akses ke versi dirinya yang dulu.
“Lyra,” katanya.
Namanya terdengar sama.
Rasanya tidak.
“Bagas,” jawab Lyra, dan terkejut karena suaranya tidak bergetar.
Mereka berdiri, terpisah oleh dua rak buku dan jarak yang tidak bisa diukur dengan langkah.
“Kamu…,” Bagas berhenti. Mengganti arah kalimat.
“Kamu kelihatan baik.”
Lyra mengangguk. “Kamu juga.”
Itu kebohongan kecil yang tidak perlu dikoreksi. Bukan karena tidak benar, tapi karena tidak penting.
Ada seribu pertanyaan yang dulu bisa mereka ajukan tanpa izin:
Sudah makan?
Kamu capek?
Kamu baik-baik saja, sungguh?
Sekarang, semua itu menjadi wilayah terlarang.
“Kamu sering ke sini?” tanya Bagas, akhirnya.
“Kadang,” jawab Lyra. “Kalau butuh kertas kosong.”
Bagas tersenyum tipis. “Kamu masih suka yang begitu.”
Bukan pertanyaan.
Bukan nostalgia.
Hanya pengamatan.
Lyra ingin mengatakan: kamu masih ingat
tapi kalimat itu terlalu dekat dengan kamu masih peduli.
Ia tidak mengatakannya.
Bagas menutup bukunya, memegangnya dengan dua tangan sekarang, seperti seseorang yang butuh pegangan. “Aku… lagi nunggu seseorang,” katanya. Nada suaranya ringan, hampir ceroboh.
Lyra menangkap itu.
Dan mengerti.
“Oh,” katanya. “Aku juga sebentar lagi pergi.”
Padahal ia belum menemukan buku catatannya.
Ada jeda lagi. Jeda yang dulu selalu diisi—dengan candaan, keluhan, rencana makan malam, atau sekadar berdiri tanpa tujuan karena bersama terasa cukup.
Sekarang, jeda itu seperti pintu yang sengaja tidak dibuka.
“Senang ketemu kamu,” kata Bagas.
Kali ini, Lyra tersenyum lebih dulu. “Iya. Aku juga.”
Dan itu benar.
Menyakitkan, tapi benar.
Bagas melangkah pergi lebih dulu. Tidak menoleh. Tidak melambat. Seperti seseorang yang tahu, kalau ia berhenti satu detik saja, ada hal-hal yang tidak akan bisa ia jaga tetap pada tempatnya.
Lyra menunggu sampai langkah itu menghilang di antara rak-rak lain.
Baru setelah itu ia menyadari:
tangannya gemetar pelan.
Ia menghembuskan napas, panjang. Tidak menangis. Tidak tersenyum. Hanya berdiri, membiarkan tubuhnya mengejar ketinggalan dari hatinya.
Di luar toko, hujan jatuh lurus—tanpa ragu.
Lyra membeli buku catatan itu.
Ia masih menggenggamnya ketika berhenti di ambang pintu.
Untuk sesaat, ia berharap ada langkah di belakangnya.
Bukan untuk memanggil.
Bukan untuk kembali.
Hanya untuk membuktikan bahwa ia tidak sendirian merasakan ini.
Tidak ada apa-apa.
Baru saat itu ia mengerti:
kehilangan paling menyakitkan bukan ketika seseorang pergi,
melainkan ketika ia pergi dengan membawa bagian diri kita
dan tidak merasa perlu mengembalikannya.
Lyra melangkah keluar.
Dan di tengah hujan yang dingin,
ia merasakan dadanya terbakar—
bukan oleh rindu,
melainkan oleh kesadaran
bahwa orang yang paling ia cintai
adalah orang yang tidak akan pernah lagi mencarinya.
Komentar
Posting Komentar