Bab 1: Jalan yang Sedikit Licin
Lyra baru menyadari ulang tahunnya telah lewat sehari setelah lilin itu padam.
Bukan karena ia lupa tanggal. Ia hanya lupa bahwa tanggal bisa berarti sesuatu. Pagi itu, ia berdiri di depan cermin kamar mandi kosnya, menyikat gigi sambil menatap wajah sendiri yang tampak sama saja—tidak lebih dewasa, tidak lebih bijak, hanya sedikit lebih lelah di bawah mata.
Air keran mengalir terlalu deras. Ia memutarnya lebih kecil, lalu berhenti sejenak, karena entah kenapa suara air itu terasa seperti sedang menunggu jawaban.
“Kamu aneh,” katanya pada bayangannya sendiri.
Di luar, hujan turun ragu-ragu. Bukan hujan deras, bukan gerimis. Jenis hujan yang membuat orang lupa membawa payung dan kemudian menyalahkan cuaca.
Lyra mengambil jaket tipis dan keluar.
Tangga kos licin. Selalu licin, bahkan saat tidak hujan. Ia menuruni anak tangga dengan hati-hati, berpegangan pada pagar besi yang catnya sudah mengelupas. Di anak tangga terakhir, kakinya sedikit tergelincir.
Sedikit saja. Tidak jatuh.
“Nyaris,” gumamnya.
Ia tertawa kecil, seperti orang yang baru saja diingatkan bahwa tubuhnya masih bisa salah langkah.
Jalan di depan kosnya sempit, diapit warung fotokopi dan toko bunga yang tidak pernah benar-benar ramai. Di etalase toko bunga itu, ada papan kecil bertuliskan Hati-Hati Jalan Licin, dengan huruf yang mulai pudar.
Lyra berhenti sebentar. Ia tidak tahu kenapa.
Tulisan itu terasa terlalu personal.
Ia melanjutkan langkah.
Di halte bus, ia berdiri di antara dua orang yang sama-sama sibuk dengan ponsel mereka. Lyra tidak membuka ponselnya. Ia hanya menatap jalan, memperhatikan bagaimana air hujan mengalir mengikuti retakan aspal, memilih jalannya sendiri.
Ada sensasi aneh di dadanya. Bukan rindu, bukan sedih. Lebih seperti… arah yang sedikit bergeser.
Seperti jika kamu sedang berjalan lurus, lalu tiba-tiba merasa perlu menoleh, tanpa tahu kenapa.
Bus datang terlambat. Lima menit. Sepuluh menit. Tidak ada yang mengeluh. Semua orang sudah terbiasa menunggu hal yang tidak datang tepat waktu.
Saat akhirnya bus berhenti, pintunya terbuka dengan suara mendesah panjang, seolah ia pun lelah.
Lyra naik dan duduk di kursi dekat jendela.
Kota bergerak pelan di luar. Lampu lalu lintas berubah warna dengan ritme yang terlalu teratur untuk dipercaya. Di satu persimpangan, lampu hijau bertahan sedikit lebih lama dari biasanya.
Hanya sedikit.
Tidak ada yang memperhatikan.
Lyra menempelkan dahinya ke kaca jendela yang dingin. Untuk sepersekian detik—sangat singkat—ia merasa seperti pernah berada di momen ini sebelumnya. Posisi yang sama. Hujan yang sama. Perasaan yang sama.
Ia menghela napas dan mengusir pikiran itu.
“Kebetulan,” katanya pelan.
Ia selalu percaya pada kebetulan. Kebetulan terasa lebih aman daripada takdir. Kebetulan tidak menuntut apa-apa.
Bus berhenti mendadak. Seorang pengendara motor memotong jalur, lalu melaju pergi tanpa menoleh. Beberapa penumpang terhuyung. Lyra berpegangan pada kursi di depannya.
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Di saat yang sama—tanpa ia ketahui—di sisi kota yang lain, seorang laki-laki berdiri terlalu lama di depan mesin kopi otomatis, menatap pilihan menu seolah salah satunya bisa mengubah hari.
Bagas akhirnya menekan tombol kopi hitam, meski ia tahu perutnya tidak terlalu bersahabat dengan kafein pagi-pagi.
Mesin berdengung. Kopi turun.
Ia mengambil gelasnya, lalu berhenti, karena entah kenapa, ia merasa perlu menoleh ke pintu kantor.
Tidak ada siapa-siapa yang masuk.
“Kenapa sih,” katanya pada dirinya sendiri, lalu tertawa kecil.
Hari itu tidak istimewa bagi Bagas. Tidak ada ulang tahun. Tidak ada doa. Hanya hari kerja biasa dengan daftar tugas yang terlalu panjang.
Namun, sepanjang pagi, ia melakukan dua kesalahan kecil: mengirim email ke alamat yang salah, dan hampir menabrak tiang parkir saat keluar makan siang.
“Fokus,” katanya, lebih keras dari yang perlu.
Sementara itu, Lyra turun dari bus satu halte lebih awal dari biasanya.
Ia baru menyadarinya setelah bus kembali berjalan. Ia berdiri di trotoar, memandang punggung bus yang menjauh, dan merasa bodoh.
“Aku salah turun,” katanya pada udara.
Trotoar itu basah. Ada genangan kecil yang memantulkan langit abu-abu. Lyra melangkah mundur, lalu hampir terpeleset lagi.
Kali ini ia tertawa, lebih lepas.
“Baiklah,” katanya. “Pesannya sampai.”
Ia berjalan menyusuri trotoar, melewati kafe kecil yang belum pernah ia masuki sebelumnya. Di jendelanya, ada tulisan dengan kapur putih:
Hati-Hati Jatuh. Jalanan Licin.
Lyra berhenti.
Dadanya bergetar pelan, seperti ada sesuatu yang disentuh dari dalam.
Ia tidak masuk. Belum. Ia hanya berdiri di sana, cukup lama hingga hujan berhenti tanpa ia sadari.
Di kejauhan, seseorang tertawa. Di tempat lain, seseorang menghela napas. Kota melanjutkan hidupnya, pura-pura tidak tahu apa yang baru saja digeser sepersekian milimeter.
Lyra melangkah pergi, tidak tahu bahwa sejak pagi itu, langkahnya dan langkah orang lain sedang diarahkan ke garis yang sama.
Bukan untuk bertemu hari ini.
Belum.
Hanya untuk memastikan bahwa ketika mereka akhirnya saling melihat lagi, mereka akan sama-sama merasa:
aku pernah ada di sini sebelumnya.
Dan jalan ini—
selalu sedikit licin.
Komentar
Posting Komentar