Bab 15: Hari yang Biasa
Hidup tidak memberi tanda ketika seseorang benar-benar selesai dengan masa lalunya. Tidak ada penutup yang rapi, tidak ada musik latar. Yang ada hanya hari yang berjalan seperti biasa—dan perasaan yang tidak lagi tertinggal.
Lyra menyadari itu di sebuah sore yang tidak istimewa. Ia menunggu, bukan seseorang, hanya waktu. Jalanan ramai, udara hangat, dan kota tampak tidak sedang menyimpan rencana apa pun untuknya.
Nama Bagas tidak muncul di kepalanya hari itu.
Bukan karena diusir—hanya karena tidak dipanggil.
Ia berdiri di halte, memperhatikan orang-orang dengan jarak yang sehat. Ada yang gelisah, ada yang tergesa, ada yang sibuk dengan pikirannya sendiri. Lyra tidak berada di mana pun selain di tempat ia berdiri sekarang.
Seseorang berhenti di sampingnya.
“Kalau lihat wajah orang-orang di sini,” kata orang itu, setengah bercanda, “kayaknya kita semua sepakat hari ini terlalu panjang.”
Lyra melirik, lalu tersenyum. “Atau terlalu panas.”
“Bisa jadi dua-duanya,” jawabnya cepat.
Ada jeda singkat. Tidak canggung.
Jeda yang terasa seperti dua orang menemukan ritme yang sama tanpa mencoba.
“Kamu sering nunggu di sini?” tanyanya.
“Kadang,” jawab Lyra. “Kalau lagi pengin pulang tanpa mikir terlalu banyak.”
Orang itu mengangguk, seolah mengerti lebih dari yang perlu dijelaskan. “Tempat yang pas.”
Lyra menyadari sesuatu yang kecil tapi nyata:
ia tidak sedang waspada. Tidak menahan diri. Tidak mengatur jarak.
Ia menyebutkan namanya.
Orang itu menyebutkan namanya juga. Suaranya tenang, tidak mencoba tinggal lebih lama dari yang diizinkan percakapan.
Bus datang dengan suara berat. Pintu terbuka.
Mereka berdiri bersamaan, lalu berhenti sejenak—bingung sepersekian detik siapa yang lebih dulu melangkah.
“Duluan,” kata orang itu.
“Bareng aja,” jawab Lyra, refleks.
Mereka tertawa kecil, bersamaan, karena alasan yang sama sekali tidak penting.
Di dalam bus, Lyra duduk di dekat jendela. Orang itu berdiri beberapa langkah darinya. Tidak ada janji untuk duduk bersebelahan. Tidak ada isyarat untuk melanjutkan percakapan.
Namun ketika bus mulai bergerak, pandangan mereka bertemu sebentar.
Bukan lama.
Tidak bermakna besar.
Cukup untuk membuat Lyra merasa hangat—bukan karena harapan, tapi karena kemungkinan.
Ia menoleh ke luar jendela. Kota berjalan seperti biasa.
Dan untuk pertama kalinya, masa depan tidak terasa seperti sesuatu yang harus ditunggu atau ditaklukkan.
Ia sudah cukup terbuka untuk menyambutnya.
Komentar
Posting Komentar