Bab 12: Akhir yang Menulis Dirinya Sendiri
Putih.
Bukan cahaya, bukan ruang — hanya halaman yang belum diberi makna.
Dari kejauhan, seperti serpihan tinta yang tersisa dari dunia sebelumnya, satu nama bergetar di antara kekosongan:
Kaede.
Bukan dipanggil, bukan ditulis ulang.
Ia hanya… kembali diingat.
Dunia mulai melukis dirinya sendiri di sekeliling nama itu.
Langit tumbuh dari garis biru, pohon-pohon muncul dari noda hijau samar, dan udara membentuk aroma kehidupan.
Semua tercipta bukan dari perintah, tapi dari ingatan tentang keinginan untuk hidup.
Dan di tengahnya — gadis itu berdiri.
Kaede Kagami.
Ia tampak muda, utuh, dan tidak menyadari apa pun yang telah terjadi.
Tidak ada naskah di tangannya. Tidak ada tinta di kulitnya.
Ia hanya berjalan, menatap langit yang tampak baru.
Hujan ringan turun, membasuh jalan yang terbentuk dari huruf-huruf samar.
Kaede mendongak dan tersenyum — tidak tahu bahwa setiap tetes hujan membawa serpihan kalimat dari seseorang yang pernah mencintainya dengan cara yang hanya dimengerti oleh pena.
Di perpustakaan tua, di kota yang sama, seorang anak kecil membuka buku kosong.
Sama seperti sebelumnya — tapi kali ini, di halaman pertama tertulis:
Untukmu, yang pernah ingin aku selamatkan.
Sekarang, hiduplah.
Anak itu membaca dalam diam, lalu membalik halaman.
Di lembar terakhir, samar, terbentuk bayangan wajah Shiro yang tersenyum, dan di sampingnya—bayangan tangan kecil yang menggenggamnya.
Kaede.
Namun keduanya mulai memudar, seiring kalimat terakhir muncul:
Cintamu telah menjadi dunia yang baru.
Dan itu cukup.
Anak itu menutup buku, menatap sampul hitamnya.
Tinta di punggungnya berpendar pelan, membentuk label baru:
“The Scripter: Final Loop // read-only.”
Dunia di luar jendela bergerak pelan.
Kaede menatap langit, lalu melangkah ke cahaya sore.
Di tempat yang tak bisa dijangkau siapa pun,
di antara lapisan paling dalam realitas,
sesosok ular putih melingkar di sekeliling Scriptbook yang kini tertutup rapat.
Matanya berkilat seperti bintang.
“Akhir yang indah,” bisik Nagami Mamiya.
“Karena akhirnya, seseorang menulis bukan untuk menyelamatkan… tapi untuk melepaskan.”
Tinta berhenti bergerak.
Dunia diam sempurna.
Dan di antara keheningan itu,
suara pena terakhir terdengar sangat pelan —
hampir seperti doa:
Kaede, tetaplah hidup.
Komentar
Posting Komentar