Bab 11: Reinkode
Langit Layer 0 bukan langit lagi.
Ia adalah cermin retak yang memantulkan serpihan dunia — setiap pantulan menunjukkan versi lain dari Shiro: satu yang marah, satu yang hampa, satu yang menangis di hadapan nama yang tak lagi diizinkan disebut.
Shiro berjalan di antara cermin itu.
Setiap langkah menghapus bayangannya sendiri.
Ia sadar, semakin lama ia di sini, semakin sedikit bagian dari dirinya yang masih “nyata.”
Tapi di antara gema sunyi itu, satu suara menyusup.
Lembut. Nyaris tak mungkin berasal dari Layer 0.
“Onii-san...”
Suara itu membekukan waktu.
Tinta di udara berhenti berputar.
Shiro memalingkan wajahnya, menatap retakan di salah satu cermin realitas.
Di dalamnya — sosok gadis muda dengan rambut hitam berkilau, mata tenang seperti senja.
Ia mengenakan seragam sekolah yang tak lagi ada, berdiri di bawah cahaya yang mustahil.
Kaede Kagami.
Namun wajah itu bergetar, terpecah menjadi garis kode, seperti hologram yang rusak.
“Kaede...? Kaede!”
“Kenapa... aku tak bisa menjangkau—”
access.denied: entity archived.
Suara sistem membelah kesadarannya.
Tapi Shiro menulis dengan darahnya sendiri di udara.
Tinta terbakar.
Ia menggertakkan gigi. “Tidak peduli. Aku penulisnya.”
Ia menulis lagi, kali ini dengan seluruh dirinya.
Retakan di cermin terbuka, dan sekejap—Shiro terlempar ke dalam fragmen itu.
Ia berada di taman.
Tempat yang dulu mereka lewati setiap sore.
Tempat di mana dunia terasa normal.
Kaede duduk di bangku, memegang buku catatan. Ia menulis sesuatu—dengan pena biasa, bukan Scriptbook.
Shiro mendekat, lututnya gemetar.
“Kaede...”
“Kau tidak seharusnya di sini.”
Kaede menatapnya, tersenyum samar.
“Kalau begitu... mungkin kau juga tidak seharusnya di sana.”
Dunia di sekitar mereka bergetar, tanda bahwa fragmen ini tidak stabil.
Namun Shiro tak bisa berhenti menatap adiknya.
Bukan versi palsu, bukan memori; ia merasakan panas dari napasnya.
“Aku minta maaf,” bisik Shiro. “Aku mencoba menulis ulang segalanya hanya untuk—”
“Aku tahu,” potong Kaede lembut. “Tapi kau tak bisa menulis kehidupan, Onii-san. Hanya bisa menulis maknanya.”
Tepat saat Shiro hendak menjawab, suara berat menggetarkan langit.
Fragmen dunia terbelah dua.
Dari celah yang terbuka, muncul Nagami Mamiya.
Sosok putih raksasa menjulang di atas dunia yang runtuh.
Tubuhnya bukan daging, bukan tinta, tapi hukum itu sendiri.
Setiap sisik ular itu terbuat dari perintah, setiap tatapannya menggulung kode yang tak bisa diuraikan.
“Dunia ini tidak bisa menampung dua keberadaan dari satu memori,” suara Nagami menggema tanpa suara.
“Kaede adalah bagian dari script yang sudah ditutup. Membukanya lagi berarti menghapus semua yang masih berjalan.”
Shiro menatapnya tanpa mundur.
“Aku tidak peduli pada dunia yang berjalan tanpa Kaede.”
Nagami bergerak perlahan, kepalanya melingkar mengitari mereka, seperti orbit waktu itu sendiri.
“Lalu, apa yang akan kau lakukan, Scripter?”
“Menulis dirimu sendiri keluar... atau menulis ulang Tuhan?”
Shiro menatap tangan Kaede. Ia menggenggamnya—dan untuk sesaat, dunia berhenti bergetar.
“Jika aku hilang, tapi Kaede bisa hidup di dunia yang bebas dari loop... maka itu bukan kehilangan.”
Nagami terdiam.
Lalu sesuatu yang mirip dengan senyum muncul di mata keabadiannya.
“Akhirnya, kau mengerti.”
“Reinkode dimulai.”
Langit pecah. Dunia bergulung seperti halaman dibakar dari tengah.
Kaede menatap Shiro—dan di matanya, refleksi Shiro mulai menghapus dirinya sendiri, huruf demi huruf.
“Onii-san...”
“Jangan lupa—aku tidak pernah benar-benar pergi. Aku hanya... menjadi bagian dari ceritamu.”
Tinta menyebar. Warna lenyap.
Shiro menulis satu baris terakhir di udara:
“Tapi pastikan... ia bahagia.”
Dan Nagami menutup matanya.
Satu kedipan dari entitas abadi itu, dan semua baris terhapus.
Komentar
Posting Komentar