Bab 10: Access Revoked
Langit Layer 0 tidak lagi putih. Ia bergetar seperti kaca yang ditarik dari dua arah, memantulkan warna yang tak punya nama. Setiap gerak Shiro meninggalkan jejak bayangan yang terlambat satu detik. Ia berjalan tanpa arah—antara kata dan hening, antara dirinya dan sesuatu yang lebih dingin dari dirinya sendiri.
“Yukari?” suaranya nyaris tak keluar.
Gadis itu berdiri di tepi ruang kosong, tubuhnya terpecah menjadi potongan cahaya. Setiap kali ia berbicara, suaranya terdengar seperti kalimat yang diputar balik.
“...ori hS ,kemaS …gnihtemos gninrubs...”
Shiro menggenggam Scriptbook yang kini retak di bagian punggungnya. Tinta di dalamnya masih hidup—berdenyut, seolah bernafas.
Dari jauh, muncul suara langkah.
Tapi bukan langkah manusia.
Langkah itu berbunyi seperti deret perintah yang sedang diketik, klik—klik—klik, dengan irama yang terlalu presisi untuk berasal dari dunia nyata.
Kuroto En muncul dari celah retakan udara. Wajahnya tidak lagi utuh—setengah didefinisikan, setengah berupa kode yang berkedip.
“Kau sudah terlalu lama di sini, Shiro.”
“Layer ini tidak menunggu keputusan siapa pun.”
Shiro menatapnya. “Apa yang terjadi dengan Yukari?”
“Dia bukan entitas penuh di Layer 0. Hanya gema dari penulisanmu.”
“Dan gema itu mulai kehilangan data.”
Shiro terdiam.
Angin Layer 0 membawa serpihan teks melayang, seperti hujan kertas yang terbakar dari dalam.
Setiap potongan menulis ulang dirinya di udara, lalu menghapus kembali.
Kuroto mengulurkan tangan, di tangannya muncul sesuatu — bukan senjata, bukan naskah, tapi kunci transparan, berdenyut dengan cahaya biru.
“Kau bisa menulis ulang dunia, Shiro. Sekali lagi.”
“Tapi setelah itu, semua kata yang pernah tertulis—semua orang yang pernah ada—akan hilang dari memori realitas.”
Shiro menatap Scriptbook di tangannya.
Kata-kata di halaman terakhir tampak seperti ingin lepas.
Satu kalimat yang belum selesai:
“Jika aku menulis ulang dunia ini…”
“...apa yang tersisa dari diriku?”
Kuroto menjawab pelan, hampir seperti gema logika yang dingin.
“Hanya kesalahan penulisan. Dan itu cukup untuk memulai lagi.”
Shiro menutup matanya. Ia mendengar napas Yukari yang retak di udara—napas yang kini diselimuti kode.
“sh…iro…”
“jika dunia ini… dihapus… siapa yang akan mengingat… kamu?”
Sebuah jeda panjang.
Waktu berhenti.
Layer 0 retak serentak seperti kaca dihantam frekuensi yang tak terdengar.
Shiro menulis satu baris di Scriptbook.
Tinta berubah menjadi cahaya putih, menyilaukan.
Kuroto mundur, menatapnya seolah melihat sistem yang melampaui dirinya sendiri.
script.write(“for memory that must not fade”)
Namun sebelum tinta sempat kering, Scriptbook berdenyut.
Baris itu ditolak.
Huruf-hurufnya terurai menjadi serpihan cahaya dan menguap, membentuk pola yang menyerupai nama yang belum pernah ia tulis — tapi terasa sangat familiar.
“ka—e…de…”
Cahaya itu menyatu, melesak ke dalam Shiro.
Layar dunia bergetar. Layer 0 hancur.
Semua menjadi putih.
Komentar
Posting Komentar